Laskar Pelangi yang menjadi
best seller book beberapa waktu
lalu merupakan salah satu contoh nyata bagaimana kondisi pendidikan di
Indonesia. Yaitu masih banyak orang yang memiliki prestasi dan bakat
gemilang namun tidak memiliki kesempatan. Umumnya yang menjadi alasan
adalah kemampuan finansial yang rendah.
Dalam buku tersebut,
diceritakan mengenai Lintang, anak seorang nelayan yang harus bersepeda
berpuluh-puluh kilometer setiap harinya untuk pergi ke sekolah. Ditambah
lagi dengan kesulitan yang dihadapinya di perjalanan. Mulai dari hujan
badai hingga ancaman buaya. Meskipun begitu, tidak pernah satu hari pun
ia bolos sekolah. Bahkan, ia menjadi murid terpintar dengan tingkat
kecerdasan yang melebihi rata-rata siswa seusianya.
Kejadian
serupa didapati dosen-dosen Universitas Paramadina (UPM) ketika
mengadakan kunjungan ke 14 kota, yakni Jabodetabek, Makasar, Bali,
Padang, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Nanggroe Aceh Darussalam, Medan,
Pontianak, Garut, Cirebon, Lampung, dan Palembang.
Kunjungan itu terkait dengan
Fellowship Paramadina,
sebuah program beasiswa untuk sekitar 25 persen mahasiswa baru.
"Program ini bertujuan memberikan kesempatan kuliah dan mengembangkan
diri kepada lulusan SMA yang berbakat dan berprestasi dari seluruh
Indonesia. Namun memiliki kendala dalam hal ekonomi," ujar Rektor UPM
Anies Baswedan PhD.
Anies menambahkan, pendidikan merupakan
ekskalator bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Karenanya, pendidikan menjadi hal yang sangat penting dalam sebuah
masyarakat. Sayangnya, banyak orang yang tidak dapat memiliki kesempatan
untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas. Umumnya karena
masalah biaya.
Padahal, banyak anak Indonesia yang memiliki
bakat dan prestasi menakjubkan. Namun, karena kendala ekonomi, bakat dan
prestasi itu jadi terbuang percuma. "Kami ingin menampung bakat dan
prestasi mereka dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk
mengenyam pendidikan di UPM secara gratis," kata Anies.
Director Departemen of Cooperation & Fellowship UPM, Kurniawaty Yusuf MSi mengatakan,
Fellowship Paramadina
dimulai dengan menyebarkan informasi program ini ke seluruh Indonesia.
Ini dilakukan melalui berbagai pameran, media, memanfaatkan
website
resmi UPM, hingga memberikan formulir secara gratis ke 800 SMA di
seluruh Indonesia. Bahkan, setiap dosen ikut berperan. Jadi, ketika
mereka pulang ke daerahnya, mereka membawa formulir dan membagikannya ke
sekolah di daerah tersebut.
Persyaratan untuk ikut dalam program
ini cukup ketat. Mulai dari surat rekomendasi dari kepala sekolah dan
guru, fotokopi rapor selama sekolah, surat keterangan tidak mampu,
hingga melampirkan semua prestasi dan keahlian yang dimiliki. "Dari
seleksi ini, kami berharap dapat menemukan siswa dengan kompetensi dalam
bidang intelektual, emosional, kepemimpinan, dan etika," kata
Kurniawaty.
Untuk tahap awal, didapat 1.300 siswa yang mendaftar.
Berkas yang masuk diperiksa secara seksama oleh seluruh dosen yang
mewakili seluruh program studi. Hingga didapat 256 siswa di 14 kota yang
masuk ke tahap wawancara. Untuk meringankan beban siswa, wawancara
dilakukan di kota siswa yang bersangkutan. Tidak hanya itu, bagi siswa
yang datang untuk wawancara, diberikan uang pengganti transportasi
sebesar Rp 200 ribu.
Kurniawaty menjelaskan, dalam proses
wawancara itu, dosen-dosen UPM menemukan hal-hal yang luar biasa. Mulai
dari kecerdasan dan bakat yang dimiliki setiap siswa yang jauh di luar
perkiraan sebelumnya. Ia mencontohkan, ada anak yang mampu pidato dengan
lancar menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab. Ada juga anak yang
memiliki nilai 10 untuk matematika setiap semester.
Namun,
perjuangan mereka untuk mendapatkan pendidikan pun luar biasa. Ada anak
yang seluruh keluarganya menjadi korban Tsunami di Aceh. Sehingga ia
harus membiayai dirinya sendiri. Ada yang harus ikut lomba untuk
mendapatkan uang sekolah. Bahkan, ada yang harus menari setiap malam
untuk membiayai sekolahnya.
"Mereka memiliki kehidupan yang
sangat sulit. Saya bahkan sempat tidak percaya kalau hal-hal seperti ini
benar-benar terjadi. Saya pikir hanya ada di buku atau di sinetron.
Karenanya mereka sangat bergantung kepada pendidikan. Mereka berharap,
dengan mengenyam pendidikan yang tinggi dan berkualitas, mereka dapat
mengubah jalan hidup mereka," jelas Kurniawaty.
Setelah sampai
pada tahap wawancara, muncul kekhawatiran dalam diri Anies. Ini terkait
dengan jumlah beasiswa yang diberikan yang hanya 25 persen dari jumlah
mahasiswa baru. Untuk tahun ini, jumlah mahasiswa baru yang akan
diterima sekitar 400orang. Dengan begitu, jumlah mahasiswa yang akan
menerima beasiswa sekitar 100 orang. "Saya khawatir, jumlah yang pantas
untuk mendapat beasiswa lebih besar dari kapasitas yang diberikan.
Karena itu, saat ini kami sedang memikirkan jalan keluar terbaik jika
hal itu terjadi," jawab Anies.
Anies menyebut beasiswa yang
nantinya akan diberikan ini sebagai ‘beasiswa yang tidak basa-basi’.
Yaitu, beasiswa penuh, dari awal hingga mahasiswa selesai. Mulai dari
biaya pendidikan, biaya buku, bahkan biaya hidup bagi mahasiswa yang
datang dari luar kota. Jumlah beasiswa yang diberikan mencapai Rp 65
juta untuk siswa dari Jabodetabek. Sementara untuk mahasiswa yang
berasal dari luar Jabodetabek, biaya tersebut ditambah dengan biaya
hidup. Totalnya mencapai Rp 100 juta per anak.
Konsep beasiswa baruUntuk
mengumpulkan dana beasiswa itu, Anies menggunakan konsep yang menarik.
Bahkan ia mengklaim konsep ini sebagai yang pertama di Indonesia. Dana
untuk beasiswa berasal dari orang-orang yang memiliki kepedulian
terhadap pendidikan. Mereka diminta untuk memberikan beasiswa dengan
jumlah yang telah ditentukan untuk santunan per siswa. Jadi, setiap
pendonor diberikan pilihan untuk memberikan uang kelipatan Rp 65 juta
atau Rp 100 juta.
Berbeda dengan beasiswa lain, pemberi beasiswa
harus memberikan sumbangannya di muka. Beberapa persen dari uang yang
dikumpulkan digunakan untuk membiayai siswa penerima beasiswa. Sisanya,
diinvestasikan ke berbagai bidang. Dengan begitu, uang ini tidak akan
habis. Sehingga, meskipun ke depannya tidak ada donatur, program
beasiswa dapat terus berjalan.
"Uang ini yang kemudian menjadi
dana abadi. Ini sepenuhnya digunakan untuk beasiswa. Rekeningnya pun
terpisah dari rekening universitas. Bahkan, untuk promosi dan biaya
seleksi, kami menggunakan dana universitas. Jadi, kami jamin dana yang
ada memang ditujukan untuk beasiswa," tegas Anies.
Dengan sistem
ini, tambahnya, pemberi donor percaya bahwa uangnya memang dimanfaatkan
untuk pendidikan. Selain itu, dana yang diberikan menjadi dana yang
terus berkelanjutan. Sistem seperti ini mengatasi masalah kepercayaan
dan komunikasi yang selama ini muncul antara pendonor dengan lembaga
pendidikan.
Ketika memberikan sumbangan, ada beberapa kewajiban
yang harus dipenuhi pendonor. Antara lain harus mengajak mahasiswa yang
dibantu bertemu setidaknya satu kali dalam satu semester. Ini untuk
memberikan akses kepada mahasiswa. Jadi ketika lulus, siswa yang
bersangkutan memiliki akses untuk berkembang. Entah untuk kerja atau
juga untuk membuat usaha sendiri.
Tidak hanya itu, pendonor juga
harus bersedia namanya digunakan setelah nama mahasiswa yang dibantu.
Jadi misalnya, Syahruddin mendapat bantuan dari Republika. Maka, ketika
lulus ia wajib menggunakan nama Syahruddin Paramadina-Republika Fellow.
Tujuannya,
kata Anies, agar mahasiswa tersebut selalu ingat setiap kesuksesan yang
didapat. Ingat bahwa keberhasilan itu berkat bantuan orang lain.
Sehingga, nantinya mahasiswa tersebut akan membantu orang lain,
khususnya dalam hal pendidikan.
Pihak-pihak yang saat ini telah
menjadi donatur yakni, Astra International, Salim Group, Adaro
Indonesia, BlitzMegaplex, Djarum Group, Fund Asia, Garudafood, Northstar
Pacific, Principia Management, Radiant Utama, Republika, Jakarta Post,
Majalah Tempo, Koran Tempo, Waspada Group, Indra Uno, Newmont Pacific
Nusantara, Bank BTPN, TP Rachmat, Benny Subianto, Sofjan Wanandi,
Sandiaga Uno, Mien Uno, Gita Wirjawan, Patrick Walujo, Jeffrie Geovanie,
Soegeng Warjadi, Fahmi Idris, Ahmad Ganis, dan Abdul Latief.
Anies
berharap, lembaga pendidikan lain mau mengikuti apa yang telah
dimulainya. Ia bahkan berniat untuk membagikan konsep ini secara gratis
kepada siapa saja yang mau. Mulai dari mengaplikasikan hingga tips dan
triknya. Sehingga, semakin banyak siswa berprestasi namun kurang mampu
yang terbantu.
Paramadina Social ResponsibilityRektor
Universitas Paramadina (UPM) Anies Baswedan, Ph D mengatakan, UPM
merupakan kampus kecil. Namun bercita-cita untuk menjadi kampus yang
memiliki kualitas global. Meskipun kecil, namun setiap harinya kampus
UPM selalu dilewati oleh orang banyak. Terutama masyarakat yang tinggal
di sekitar kampus.
Masyarakat ini, umumnya berasal dari kalangan
yang tidak mampu. Karena itu, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan
hingga jenjang perguruan tinggi sangat kecil. Karena itu, selain program
Paramadina Fellowship, UPM juga memiliki program beasiswa lain yang ditujukan untuk masyarakat sekitar yang berprestasi. Program ini dinamakan
Paramadina Social Responsibility.
Paramadina Fellowship merupakan program beasiswa untuk seluruh siswa di seluruh Indonesia. Sementara
Paramadina Social Responsibility
khusus untuk masyarakat sekitar. "Masa' siswa yang di Aceh kami datangi
dan kami ajak untuk sekolah di sini. Sementara siswa berprestasi di
lingkungan sendiri tidak dilihat," kata Anies.
Tidak berbeda dengan
Paramadina Fellowship,
Paramadina Social Responsibility
pun memberikan ‘beasiswa yang tidak basa-basi’. Atau beasiswa dari awal
hingga selesai yang meliputi seluruh biaya yang dibutuhkan. Mulai dari
biaya pendidikan hingga biaya buku.
Meskipun untuk masyarakat sekitar, namun UPM menetapkan seleksi yang ketat. Meskipun tidak seketat seleksi untuk program
Paramadina Fellowship.
UPM memang salah satu perguruan tinggi yang membatasi jumlah
mahasiswanya. Tidak jarang calon mahasiswa ditolak karena tidak memenuhi
persyaratan dan seleksi yang ditetapkan.
"Hal ini kami lakukan
karena kami ingin memberikan pendidikan dengan kualitas terjamin untuk
seluruh mahasiswanya. Kami tidak butuh banyak mahasiswa. Yang kami
butuhkan adalah mahasiswa yang mau dan dapat memberikan perubahan ke
arah yang lebih baik. Untuk dirinya, untuk agama, dan untuk bangsa,"
ujar Anies.
Hal ini digapai dengan menerapkan sistem yang
kondusif untuk belajar. Tidak hanya untuk sisi akademis, namun juga
kepribadian, dan sisi religi. Seperti menggunakan kelas-kelas kecil
hingga memberikan aktivitas-aktivitas pengembangan kompetensi diri.
Ketika lulus, setiap mahasiswa pun akan mendapat dua ijasah. Yang
pertama ijasah untuk nilai akademik dan satu lagi ijasah untuk bidang
nonakademik.
Dikutip dari: http://aniesbaswedan.blogspot.com/2008/08/program-beasiswa-berkelanjutan.html pada 03/01/2015 pukul 13.02 WIB