Friday, January 2, 2015

Jokowi – JK dan Harapan Pemersatu Bangsa



Oleh: Dolly Silitonga

Panggung pergulatan politik dalam perebutan kursi kekuasaan telah usai. PDI Perjuangan keluar sebagai pemenang dengan perolehan suara 18,95 % pada Pemilu Legislatif, dan 53,15 % suara pada Pemilu Presiden – Wakil Presiden untuk Jokowi – JK yang diusung oleh Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Pembantu Presiden – Wakil Presiden yang diberi nama Kabinet Kerja pun telah terbentuk setelah melalui proses panjang yang dilakukan oleh tim transisi. Komposisi Kabinet Kerja diisi oleh orang-orang yang menurut KPK dan PPATK adalah orang-orang yang bersih dari dugaan kasus korupsi.
Namun demikian kita tidak boleh menutup mata bahwa kondisi politik bangsa ini sedang tidak stabil. Parlemen dihegemoni oleh Koalisi Merah Putih (KMP) yang notabene merupakan oposan pemerintahan Jokowi – JK. Kondisi ini ditanggapi secara beragam oleh masyarakat. Ada yang berpandangan bahwa kondisi ini baik untuk demokrasi kita, fungsi check and balances akan semakin optimal. Namun disisi lain kondisi ini justru dipandang sangat buruk untuk pemerintahan kita karena ditenggarai akan menghambat kinerja pemerintahan. Bukan tanpa bukti, indikasi ini dapat kita lihat dari proses sidang paripurna pembahasan RUU Pilkada dan pembahasan alat kelengkapan DPR beberapa waktu lalu.
Mari sejenak kita kembali ke masa lalu, masa ketika bangsa ini merintih melawan penindasan oleh kaum kolonial. Perang terjadi silih berganti, dentuman bom terdengar dimana-mana. Kondisi itu membakar semangat perlawanan dan melahirkan para Pejuang dari berbagai daerah, sehingga mereka mampu mengusir penjajah dari daerahnya masing-masing. Namun, para penjajah tak kunjung meninggalkan bumi pertiwi, mereka hanya berpindah ke daerah jajahan baru di belahan bumi pertiwi yang kaya akan rempah dan miskin pengetahuan.
Beruntung, indonesia mempunyai anak bangsa yang visioner, berjiwa nasionalisme dan kepimimpinan yang hebat. Dengan kemampuan berorasinya yang membara beliau mengagitasi rakyat Indonesia untuk bersatu-padu menabuh genderang perang merebut kemerdekaan Indonesia. Tentu tidak mudah bagi Sukarno mempersatukan semangat rakyat Indonesia yang tersebar luas di seluruh penjuru negeri dan dengan beragam suku, agama, ras, dan antargolongan.
Namun pemikiran politik Sukarno yang visioner tersebut tidak pernah mati untuk bangsa ini. Sukarno menggagas “Nasionalisme” dan “Kebangsaan” untuk mempersatukan Indonesia pada saat itu. “Nasionalisme itu ialah satu ikhtikad: suatu keinsyafan rakyat, bahwa rakyat itu ada satu golongan, satu “bangsa”!”, begitulah seruan bung karno dalam mengajak rakyat Indonesia menuju “persatuan”. Beliau percaya bahwa rasa nasionalistis itu menimbulkan suatu rasa percaya akan diri sendiri, rasa yang mana adalah perlu sekali untuk mempertahankan diri di dalam perjuangan menempuh keadaan-keadaan yang mau mengalahkan kita.
Dibalik konflik yang berkepanjangan di bidang politik ini secercah harapan muncul di dihadapan kita. Kita tahu bahwa Jokowi mempunyai kemampuan politik dalam mengerakkan rakyat untuk bersama berjuang, itu terbukti ketika beliau memimpin Solo dan Jakarta. Beliau mampu meyakinkan rakyat untuk dapat membantu program pembangunan oleh pemerintah walaupun harus merelakan kios-kios tempat mereka berjualan dirubuhkan. Ini menunjukkan bahwa Jokowi mempunyai manajemen konflik yang baik dan membuktikan bahwa beliau adalah seorang problem solver yang handal.
Begitu juga dengan Jusuf Kalla, beliau bahkan dianggap sebagai “Bapak Perdamaian” karena keterlibatannya dalam perdamaian di berbagai konflik. Konflik di Aceh, Maluku, dan Poso adalah beberapa konflik yang merasakan sentuhan perdamaian Jusuf Kalla di Negeri ini. Selain di dalam negeri, Jusuf Kalla juga terlibat dalam upaya perdamaian pada konflik yang terjadi di luar negeri, Rohingya. Artinya dibawah kepemimpinan Jokowi – JK, harapan untuk dapat mempersatukan bangsa dan mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia itu masih ada.

No comments:

Post a Comment