Friday, January 2, 2015

Program Beasiswa Berkelanjutan

Laskar Pelangi yang menjadi best seller book beberapa waktu lalu merupakan salah satu contoh nyata bagaimana kondisi pendidikan di Indonesia. Yaitu masih banyak orang yang memiliki prestasi dan bakat gemilang namun tidak memiliki kesempatan. Umumnya yang menjadi alasan adalah kemampuan finansial yang rendah.

Dalam buku tersebut, diceritakan mengenai Lintang, anak seorang nelayan yang harus bersepeda berpuluh-puluh kilometer setiap harinya untuk pergi ke sekolah. Ditambah lagi dengan kesulitan yang dihadapinya di perjalanan. Mulai dari hujan badai hingga ancaman buaya. Meskipun begitu, tidak pernah satu hari pun ia bolos sekolah. Bahkan, ia menjadi murid terpintar dengan tingkat kecerdasan yang melebihi rata-rata siswa seusianya.

Kejadian serupa didapati dosen-dosen Universitas Paramadina (UPM) ketika mengadakan kunjungan ke 14 kota, yakni Jabodetabek, Makasar, Bali, Padang, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Nanggroe Aceh Darussalam, Medan, Pontianak, Garut, Cirebon, Lampung, dan Palembang.

Kunjungan itu terkait dengan Fellowship Paramadina, sebuah program beasiswa untuk sekitar 25 persen mahasiswa baru. "Program ini bertujuan memberikan kesempatan kuliah dan mengembangkan diri kepada lulusan SMA yang berbakat dan berprestasi dari seluruh Indonesia. Namun memiliki kendala dalam hal ekonomi," ujar Rektor UPM Anies Baswedan PhD.

Anies menambahkan, pendidikan merupakan ekskalator bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Karenanya, pendidikan menjadi hal yang sangat penting dalam sebuah masyarakat. Sayangnya, banyak orang yang tidak dapat memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas. Umumnya karena masalah biaya.

Padahal, banyak anak Indonesia yang memiliki bakat dan prestasi menakjubkan. Namun, karena kendala ekonomi, bakat dan prestasi itu jadi terbuang percuma. "Kami ingin menampung bakat dan prestasi mereka dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengenyam pendidikan di UPM secara gratis," kata Anies.

Director Departemen of Cooperation & Fellowship UPM, Kurniawaty Yusuf MSi mengatakan, Fellowship Paramadina dimulai dengan menyebarkan informasi program ini ke seluruh Indonesia. Ini dilakukan melalui berbagai pameran, media, memanfaatkan website resmi UPM, hingga memberikan formulir secara gratis ke 800 SMA di seluruh Indonesia. Bahkan, setiap dosen ikut berperan. Jadi, ketika mereka pulang ke daerahnya, mereka membawa formulir dan membagikannya ke sekolah di daerah tersebut.

Persyaratan untuk ikut dalam program ini cukup ketat. Mulai dari surat rekomendasi dari kepala sekolah dan guru, fotokopi rapor selama sekolah, surat keterangan tidak mampu, hingga melampirkan semua prestasi dan keahlian yang dimiliki. "Dari seleksi ini, kami berharap dapat menemukan siswa dengan kompetensi dalam bidang intelektual, emosional, kepemimpinan, dan etika," kata Kurniawaty.

Untuk tahap awal, didapat 1.300 siswa yang mendaftar. Berkas yang masuk diperiksa secara seksama oleh seluruh dosen yang mewakili seluruh program studi. Hingga didapat 256 siswa di 14 kota yang masuk ke tahap wawancara. Untuk meringankan beban siswa, wawancara dilakukan di kota siswa yang bersangkutan. Tidak hanya itu, bagi siswa yang datang untuk wawancara, diberikan uang pengganti transportasi sebesar Rp 200 ribu.

Kurniawaty menjelaskan, dalam proses wawancara itu, dosen-dosen UPM menemukan hal-hal yang luar biasa. Mulai dari kecerdasan dan bakat yang dimiliki setiap siswa yang jauh di luar perkiraan sebelumnya. Ia mencontohkan, ada anak yang mampu pidato dengan lancar menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab. Ada juga anak yang memiliki nilai 10 untuk matematika setiap semester.

Namun, perjuangan mereka untuk mendapatkan pendidikan pun luar biasa. Ada anak yang seluruh keluarganya menjadi korban Tsunami di Aceh. Sehingga ia harus membiayai dirinya sendiri. Ada yang harus ikut lomba untuk mendapatkan uang sekolah. Bahkan, ada yang harus menari setiap malam untuk membiayai sekolahnya.

"Mereka memiliki kehidupan yang sangat sulit. Saya bahkan sempat tidak percaya kalau hal-hal seperti ini benar-benar terjadi. Saya pikir hanya ada di buku atau di sinetron. Karenanya mereka sangat bergantung kepada pendidikan. Mereka berharap, dengan mengenyam pendidikan yang tinggi dan berkualitas, mereka dapat mengubah jalan hidup mereka," jelas Kurniawaty.

Setelah sampai pada tahap wawancara, muncul kekhawatiran dalam diri Anies. Ini terkait dengan jumlah beasiswa yang diberikan yang hanya 25 persen dari jumlah mahasiswa baru. Untuk tahun ini, jumlah mahasiswa baru yang akan diterima sekitar 400orang. Dengan begitu, jumlah mahasiswa yang akan menerima beasiswa sekitar 100 orang. "Saya khawatir, jumlah yang pantas untuk mendapat beasiswa lebih besar dari kapasitas yang diberikan. Karena itu, saat ini kami sedang memikirkan jalan keluar terbaik jika hal itu terjadi," jawab Anies.

Anies menyebut beasiswa yang nantinya akan diberikan ini sebagai ‘beasiswa yang tidak basa-basi’. Yaitu, beasiswa penuh, dari awal hingga mahasiswa selesai. Mulai dari biaya pendidikan, biaya buku, bahkan biaya hidup bagi mahasiswa yang datang dari luar kota. Jumlah beasiswa yang diberikan mencapai Rp 65 juta untuk siswa dari Jabodetabek. Sementara untuk mahasiswa yang berasal dari luar Jabodetabek, biaya tersebut ditambah dengan biaya hidup. Totalnya mencapai Rp 100 juta per anak.

Konsep beasiswa baru
Untuk mengumpulkan dana beasiswa itu, Anies menggunakan konsep yang menarik. Bahkan ia mengklaim konsep ini sebagai yang pertama di Indonesia. Dana untuk beasiswa berasal dari orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan. Mereka diminta untuk memberikan beasiswa dengan jumlah yang telah ditentukan untuk santunan per siswa. Jadi, setiap pendonor diberikan pilihan untuk memberikan uang kelipatan Rp 65 juta atau Rp 100 juta.

Berbeda dengan beasiswa lain, pemberi beasiswa harus memberikan sumbangannya di muka. Beberapa persen dari uang yang dikumpulkan digunakan untuk membiayai siswa penerima beasiswa. Sisanya, diinvestasikan ke berbagai bidang. Dengan begitu, uang ini tidak akan habis. Sehingga, meskipun ke depannya tidak ada donatur, program beasiswa dapat terus berjalan.

"Uang ini yang kemudian menjadi dana abadi. Ini sepenuhnya digunakan untuk beasiswa. Rekeningnya pun terpisah dari rekening universitas. Bahkan, untuk promosi dan biaya seleksi, kami menggunakan dana universitas. Jadi, kami jamin dana yang ada memang ditujukan untuk beasiswa," tegas Anies.

Dengan sistem ini, tambahnya, pemberi donor percaya bahwa uangnya memang dimanfaatkan untuk pendidikan. Selain itu, dana yang diberikan menjadi dana yang terus berkelanjutan. Sistem seperti ini mengatasi masalah kepercayaan dan komunikasi yang selama ini muncul antara pendonor dengan lembaga pendidikan.

Ketika memberikan sumbangan, ada beberapa kewajiban yang harus dipenuhi pendonor. Antara lain harus mengajak mahasiswa yang dibantu bertemu setidaknya satu kali dalam satu semester. Ini untuk memberikan akses kepada mahasiswa. Jadi ketika lulus, siswa yang bersangkutan memiliki akses untuk berkembang. Entah untuk kerja atau juga untuk membuat usaha sendiri.

Tidak hanya itu, pendonor juga harus bersedia namanya digunakan setelah nama mahasiswa yang dibantu. Jadi misalnya, Syahruddin mendapat bantuan dari Republika. Maka, ketika lulus ia wajib menggunakan nama Syahruddin Paramadina-Republika Fellow.

Tujuannya, kata Anies, agar mahasiswa tersebut selalu ingat setiap kesuksesan yang didapat. Ingat bahwa keberhasilan itu berkat bantuan orang lain. Sehingga, nantinya mahasiswa tersebut akan membantu orang lain, khususnya dalam hal pendidikan.

Pihak-pihak yang saat ini telah menjadi donatur yakni, Astra International, Salim Group, Adaro Indonesia, BlitzMegaplex, Djarum Group, Fund Asia, Garudafood, Northstar Pacific, Principia Management, Radiant Utama, Republika, Jakarta Post, Majalah Tempo, Koran Tempo, Waspada Group, Indra Uno, Newmont Pacific Nusantara, Bank BTPN, TP Rachmat, Benny Subianto, Sofjan Wanandi, Sandiaga Uno, Mien Uno, Gita Wirjawan, Patrick Walujo, Jeffrie Geovanie, Soegeng Warjadi, Fahmi Idris, Ahmad Ganis, dan Abdul Latief.

Anies berharap, lembaga pendidikan lain mau mengikuti apa yang telah dimulainya. Ia bahkan berniat untuk membagikan konsep ini secara gratis kepada siapa saja yang mau. Mulai dari mengaplikasikan hingga tips dan triknya. Sehingga, semakin banyak siswa berprestasi namun kurang mampu yang terbantu.

Paramadina Social Responsibility
Rektor Universitas Paramadina (UPM) Anies Baswedan, Ph D mengatakan, UPM merupakan kampus kecil. Namun bercita-cita untuk menjadi kampus yang memiliki kualitas global. Meskipun kecil, namun setiap harinya kampus UPM selalu dilewati oleh orang banyak. Terutama masyarakat yang tinggal di sekitar kampus.

Masyarakat ini, umumnya berasal dari kalangan yang tidak mampu. Karena itu, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi sangat kecil. Karena itu, selain program Paramadina Fellowship, UPM juga memiliki program beasiswa lain yang ditujukan untuk masyarakat sekitar yang berprestasi. Program ini dinamakan Paramadina Social Responsibility.

Paramadina Fellowship merupakan program beasiswa untuk seluruh siswa di seluruh Indonesia. Sementara Paramadina Social Responsibility khusus untuk masyarakat sekitar. "Masa' siswa yang di Aceh kami datangi dan kami ajak untuk sekolah di sini. Sementara siswa berprestasi di lingkungan sendiri tidak dilihat," kata Anies.

Tidak berbeda dengan Paramadina Fellowship, Paramadina Social Responsibility pun memberikan ‘beasiswa yang tidak basa-basi’. Atau beasiswa dari awal hingga selesai yang meliputi seluruh biaya yang dibutuhkan. Mulai dari biaya pendidikan hingga biaya buku.

Meskipun untuk masyarakat sekitar, namun UPM menetapkan seleksi yang ketat. Meskipun tidak seketat seleksi untuk program Paramadina Fellowship. UPM memang salah satu perguruan tinggi yang membatasi jumlah mahasiswanya. Tidak jarang calon mahasiswa ditolak karena tidak memenuhi persyaratan dan seleksi yang ditetapkan.

"Hal ini kami lakukan karena kami ingin memberikan pendidikan dengan kualitas terjamin untuk seluruh mahasiswanya. Kami tidak butuh banyak mahasiswa. Yang kami butuhkan adalah mahasiswa yang mau dan dapat memberikan perubahan ke arah yang lebih baik. Untuk dirinya, untuk agama, dan untuk bangsa," ujar Anies.

Hal ini digapai dengan menerapkan sistem yang kondusif untuk belajar. Tidak hanya untuk sisi akademis, namun juga kepribadian, dan sisi religi. Seperti menggunakan kelas-kelas kecil hingga memberikan aktivitas-aktivitas pengembangan kompetensi diri. Ketika lulus, setiap mahasiswa pun akan mendapat dua ijasah. Yang pertama ijasah untuk nilai akademik dan satu lagi ijasah untuk bidang nonakademik.

Dikutip dari: http://aniesbaswedan.blogspot.com/2008/08/program-beasiswa-berkelanjutan.html pada 03/01/2015 pukul 13.02 WIB

No comments:

Post a Comment